Ekonomi

Antrean di SPBU, Pertamina Tambah Waktu Operasional Distribusi BBM di Aceh hingga 14 Jam Sehari

BANDA ACEH, Infoaceh.net – PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut memperpanjang jam operasional distribusi bahan bakar minyak (BBM) di Aceh sebagai langkah mempercepat normalisasi pasokan yang dalam beberapa hari terakhir memicu antrean di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

Perusahaan mengoptimalkan operasional Integrated Terminal (IT) Lhokseumawe dan Fuel Terminal (FT) Krueng Raya dengan meningkatkan jam penyaluran BBM dari rata-rata delapan jam menjadi 14 jam per hari. Operasional juga diperluas hingga hari Minggu untuk mengejar distribusi ke berbagai wilayah di Aceh.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Fahrougi Andriani Sumampouw, mengatakan langkah tersebut merupakan bagian dari strategi percepatan normalisasi distribusi BBM agar kebutuhan energi masyarakat tetap terpenuhi.

“Kami terus mengoptimalkan operasional terminal sebagai tulang punggung distribusi BBM di Aceh. Berbagai langkah percepatan dilakukan agar proses penyaluran menjadi lebih efektif, sehingga kebutuhan energi masyarakat dapat terpenuhi dengan baik dan kondisi distribusi di lapangan terus menunjukkan perbaikan,” kata Fahrougi dalam keterangan tertulisnya, Ahad (19/7/2026).

Selain memperpanjang jam operasional, Pertamina juga meningkatkan ritase pengoperasian mobil tangki hingga sekitar 65 persen. Penambahan frekuensi perjalanan armada tersebut dilakukan untuk mempercepat pengiriman BBM ke SPBU dan lembaga penyalur di berbagai kabupaten/kota.

Pertamina juga melakukan penyesuaian pola distribusi melalui skema alih suplai. Sejak 12 Juli 2026, Integrated Terminal Lhokseumawe mulai memasok kebutuhan BBM ke wilayah Langsa dan Aceh Timur dengan rata-rata volume pengiriman mencapai 48.000 liter per hari.

Sementara itu, untuk mempercepat pemenuhan pasokan di wilayah Bireuen dan Pidie, Pertamina menerapkan sistem distribusi estafet antara IT Lhokseumawe dan Fuel Terminal Krueng Raya. Pola ini dinilai mampu mempercepat penyaluran sekaligus membuat distribusi lebih merata.

Menurut Fahrougi, koordinasi dan sinergi antarterminal menjadi faktor penting dalam menjaga kelancaran distribusi BBM di Aceh.

“Koordinasi dan sinergi antarterminal terus kami perkuat agar proses distribusi dapat berlangsung lebih responsif terhadap dinamika kebutuhan masyarakat. Dengan dukungan seluruh infrastruktur operasional yang kami miliki, Pertamina optimistis proses normalisasi penyaluran BBM di Aceh akan terus menunjukkan perkembangan yang semakin baik,” ujarnya.

Dalam beberapa hari terakhir, masyarakat di sejumlah daerah di Aceh sempat mengeluhkan keterlambatan pasokan BBM yang menyebabkan antrean kendaraan di sejumlah SPBU. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran masyarakat terhadap ketersediaan bahan bakar, terutama bagi pelaku transportasi, nelayan, hingga sektor usaha yang bergantung pada kelancaran distribusi energi.

Merespons kondisi tersebut, Pertamina memastikan terus melakukan pemantauan terhadap stok dan penyaluran BBM di seluruh wilayah Aceh. Koordinasi juga diperkuat bersama pemerintah daerah, aparat keamanan, Hiswana Migas, serta para pemangku kepentingan lainnya guna memastikan distribusi berjalan lancar.

Pertamina mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembelian BBM secara berlebihan atau panic buying. Menurut perusahaan, stok BBM dalam kondisi aman dan distribusi terus ditingkatkan sehingga kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi secara bertahap.

Dengan penambahan jam operasional terminal, peningkatan ritase mobil tangki, serta penerapan skema distribusi yang lebih fleksibel, Pertamina berharap antrean di SPBU segera terurai dan proses normalisasi pasokan BBM di seluruh Aceh dapat berlangsung lebih cepat.

image_print

Artikel Terkait