Jika jabatan diperjualbelikan, maka yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar uang, tapi kepercayaan masyarakat terhadap proses pemerintahan, profesionalisme birokrasi
Negeri itu dikenal sebagai kota wisata. Pegunungan menghijau, air terjun mengalir jernih, jembatan-jembatan berdiri megah, dan setiap sudutnya seakan diciptakan untuk menjadi latar foto.
Dari kejauhan, Konoha tampak seperti negeri yang tidak mempunyai masalah. Tetapi sebagaimana halaman depan sebuah buku yang terlalu indah, terkadang cerita sebenarnya justru tersembunyi di halaman belakang.
Di balik keramahan kota wisata itu, beredar sebuah kisah tentang jabatan yang konon tidak hanya ditentukan oleh kemampuan, pengalaman, atau prestasi.
Ada cerita mengenai angka, setoran, pengusaha yang dijanjikan pekerjaan, serta sebuah kata yang terdengar sederhana namun menjadi bagian paling menarik dalam cerita ini: “pinjaman.”
Dalam reportase fiksi ini, seluruh tokoh, tempat, nama, nominal, dan peristiwa merupakan bagian dari dunia rekaan Negeri Konoha.
Narasi sengaja dikemas dalam gaya reportase mendalam dan satir untuk menggambarkan bagaimana sebuah dugaan skandal kekuasaan dapat berkembang menjadi pertanyaan besar mengenai jabatan, kewenangan, hubungan keluarga, uang, dan kepercayaan publik.
Di pusat cerita berdiri sosok yang disebut Bos Besar. Ia digambarkan sebagai seorang pejabat bertubuh sedikit berisi, mengenakan kacamata bulat dengan lensa cukup tebal, serta memiliki kewenangan besar dalam menentukan berbagai keputusan di lingkungan kekuasaannya.
Namun dalam cerita ini, ketenangan sang Bos Besar berubah ketika sebuah daftar berisi angka-angka mulai beredar.
Di atas kertas itu bukan menu restoran, bukan pula katalog paket wisata. Yang tercantum justru nama-nama jabatan beserta nominal yang konon harus disiapkan. Salah satu angka yang paling mencolok adalah Rp500 juta yang dikaitkan dengan kursi Sekretaris Bos.
Nama yang kemudian muncul dalam cerita adalah Mas Totok, seorang calon Sekda. Menurut kisah fiktif yang beredar di Konoha, Mas Totok disebut sebagai pihak yang melakukan setoran untuk memperoleh posisi tersebut.
Bahkan terdapat cerita mengenai upaya membuat sekretaris definitif mundur terlebih dahulu agar kursi tersebut terbuka bagi calon baru.
Jika cerita itu benar-benar terjadi dalam dunia fiksi Konoha, maka persoalannya tentu bukan sekadar mengenai uang. Ada pertanyaan mengenai siapa yang menginginkan pergantian, siapa yang mengatur prosesnya, siapa yang menawarkan jabatan, dan apakah benar terdapat transaksi di balik pergantian tersebut.
Tetapi sebuah dugaan tetaplah dugaan. Dalam jurnalistik, nama seseorang tidak boleh diubah menjadi vonis hanya karena muncul dalam sebuah cerita. Bukti harus ditempatkan di atas prasangka, dan setiap pihak berhak memperoleh ruang untuk memberikan penjelasan.
Di sisi lain muncul tokoh bernama CB, kependekan dari Calo Bos. Dalam cerita ini, CB merupakan abang kandung Bos Besar Berkacamata. Ia digambarkan sebagai sosok yang pandai membuka percakapan, menghubungkan berbagai kepentingan, dan mengetahui jalur menuju pusat kekuasaan.
Hubungan kakak dan adik itu sendiri bukanlah bukti kesalahan. Hubungan keluarga adalah sesuatu yang wajar. Namun dalam cerita fiksi ini, relasi tersebut menjadi menarik ketika bersinggungan dengan jabatan, proyek, serta uang. Dari sinilah muncul pertanyaan mengenai kemungkinan konflik kepentingan.
Cerita kemudian bergerak menuju kursi Kepala Konstruksi. Dalam reportase ini, tokoh yang menduduki posisi tersebut disebut “Si Kep.” Ia digambarkan sebagai Kepala Konstruksi yang hingga kini masih menjabat.
Nama Si Kep kemudian dikaitkan dengan cerita mengenai dugaan setoran. Angka yang beredar disebut mencapai Rp100 juta untuk Bos Besar dan Rp100 juta untuk CB.
Jika angka tersebut benar-benar pernah berpindah tangan dalam dunia fiksi Konoha, maka pertanyaan berikutnya menjadi lebih panjang: siapa yang menyetor, siapa yang menerima, kapan transaksi dilakukan, dan apa hubungan uang tersebut dengan posisi Si Kep?
Tetapi sekali lagi, keberadaan sebuah cerita tidak otomatis menjadikan transaksi sebagai fakta. Status Si Kep yang masih menjabat juga bukan bukti bahwa sebuah pembayaran pernah dilakukan. Semua itu tetap berada dalam wilayah dugaan sampai terdapat bukti yang dapat diverifikasi.
Pusaran cerita tidak berhenti pada jabatan. Para pengusaha juga disebut-sebut berada dalam lingkaran yang sama. Dalam kisah tersebut, mereka dikabarkan menyiapkan dana mulai dari Rp100 juta hingga Rp1,2 miliar, dengan janji memperoleh pekerjaan atau proyek yang dianggap menarik.
Di sinilah cerita tentang jabatan berubah menjadi cerita tentang akses ekonomi. Seolah-olah sebuah proyek bukan lagi semata-mata arena kompetisi kemampuan, pengalaman, dan kualitas penawaran, tetapi sebuah pintu yang konon mempunyai harga untuk dibuka.
Namun pertanyaan tetap harus dipisahkan dari kesimpulan. Apakah benar uang pernah diberikan? Apakah benar ada janji pekerjaan? Siapa yang memberikan janji? Dan apakah pekerjaan tersebut benar-benar berkaitan dengan uang yang disebutkan? Semua pertanyaan tersebut membutuhkan jawaban berbasis bukti.
Yang membuat cerita semakin menarik adalah istilah yang konon digunakan untuk menjelaskan setiap setoran: “pinjaman.”
Kata itu terdengar sederhana. Bahkan sangat bersahabat. Uang berpindah tangan, tetapi disebut pinjaman.
Setoran disebut pinjaman. Dalam dunia Konoha yang penuh metafora, kata tersebut seolah menjadi payung yang mampu membuat transaksi terlihat lebih teduh.
Namun sebuah reportase akan selalu bertanya lebih jauh. Jika memang pinjaman, apakah terdapat perjanjian? Siapa yang meminjam? Siapa yang meminjamkan? Kapan dikembalikan? Bagaimana mekanisme pengembaliannya? Dan mengapa pinjaman tersebut muncul berdekatan dengan urusan jabatan atau pekerjaan?
Sebab sebuah transaksi tidak otomatis menjadi pinjaman hanya karena diberi nama pinjaman. Tetapi sebaliknya, transaksi juga tidak boleh langsung disebut suap atau pembayaran ilegal hanya karena seseorang mencurigainya. Di antara dugaan dan fakta terdapat satu jembatan bernama pembuktian.
Ironisnya, semua cerita tersebut berlangsung di sebuah negeri yang tetap terlihat indah. Pegunungan menjulang, air terjun berkilauan, hotel berdiri megah, jalan-jalan membelah perbukitan, dan jembatan menjadi tempat wisata. Dari depan kamera, Konoha tampak sempurna.
Tetapi kamera dalam reportase ini tidak diarahkan kepada gunung atau air terjun. Kamera diarahkan ke sebuah meja. Di atas meja itu ada daftar jabatan, angka-angka, nama-nama, dan pertanyaan yang belum terjawab.
Jika benar ada jabatan yang diperjualbelikan, maka yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar uang. Yang dipertaruhkan adalah kepercayaan masyarakat terhadap proses pemerintahan, profesionalisme birokrasi, dan rasa keadilan bagi mereka yang seharusnya memperoleh kesempatan melalui kemampuan.
Sebaliknya, apabila seluruh cerita tersebut ternyata tidak benar, maka orang-orang yang disebut di dalamnya juga berhak mendapatkan klarifikasi dan pemulihan nama baik.
Karena itu, reportase fiksi ini tidak menempatkan Mas Totok sebagai pelaku, Si Kep sebagai penerima, CB sebagai calo yang terbukti, ataupun Bos Besar sebagai pihak yang telah melakukan pelanggaran.
Mereka hanyalah tokoh dalam sebuah cerita fiksi yang digunakan untuk mempertanyakan sebuah fenomena hipotetis: bagaimana jika jabatan memiliki harga, bagaimana jika pekerjaan mempunyai setoran, bagaimana jika hubungan keluarga bersinggungan dengan kekuasaan, dan bagaimana jika semuanya cukup diberi nama “pinjaman”?
Satire tidak selalu membutuhkan teriakan. Kadang ia hanya perlu menunjukkan sebuah kursi, menempelkan angka di atasnya, lalu bertanya dengan tenang: “Siapa yang menentukan harganya?”
Dan ketika seseorang menjawab bahwa kursi tersebut tidak dijual, satire hanya perlu bertanya kembali: “Kalau begitu, mengapa ada daftar harganya?”
Begitulah Konoha dalam cerita ini. Negeri wisata yang indah dari kejauhan, tetapi menyimpan cerita yang membuat orang berhenti sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.
Sebab terkadang pemandangan paling menarik bukanlah gunung tertinggi atau jembatan terpanjang, melainkan sebuah kursi yang tiba-tiba memiliki label harga.
Pada akhirnya, jabatan bukan barang dagangan. Ia bukan kendaraan yang bisa ditawar, bukan kamar hotel yang bisa dipesan, dan bukan tiket wisata yang bisa dibeli di loket. Jabatan adalah amanah. Jika benar ada pihak yang memperjualbelikannya, maka yang dijual sesungguhnya bukan hanya kursi, melainkan kepercayaan.
Namun jika semuanya hanyalah cerita, biarkan pula kebenaran berdiri dengan caranya sendiri. Sebab reputasi seseorang terlalu mahal untuk dibayar dengan rumor, dan tuduhan terlalu berat untuk dibangun hanya dari cerita.
Maka pertanyaan terakhir dalam reportase fiksi ini tetap sederhana: benarkah sebuah kursi jabatan pernah memiliki harga, atau sebenarnya kita hanya sedang melihat bayangan dari ketakutan terbesar sebuah birokrasi?
Konoha tetap tersenyum. Wisatawan tetap datang. Air terjun tetap mengalir. Jembatan tetap berdiri. Dan di suatu sudut kota, sebuah kursi masih menunggu seseorang untuk duduk di atasnya.
Yang tidak diketahui hanyalah satu hal: apakah orang tersebut duduk karena kompetensinya, karena kepercayaan kepadanya, atau dalam logika satire Konoha karena telah membeli tiketnya terlebih dahulu.
Catatan redaksi: Tulisan ini sepenuhnya merupakan karya reportase fiksi dan satire. Negeri Konoha, Bos Besar, CB, Mas Totok, Si Kep, serta seluruh nama, tokoh, nominal, tempat, dialog, dan rangkaian peristiwa di dalamnya merupakan unsur fiktif dan tidak dimaksudkan sebagai tuduhan terhadap individu, pejabat, lembaga, atau pihak nyata. Seluruh narasi harus dipahami sebagai karya sastra jurnalistik fiksi dan tetap menjunjung asas praduga tak bersalah.
Apabila adanya kesamaan nama, tempat dan kejadian, itu merupakan kebetulan semata.
*Penulis Riandi Armi, Aggota Aktif PWI Kota Sabang sebagai Penasihat


















