Umum

Kritik Rektor UIN Ar-Raniry di Momentum Sumpah Pemuda: Yang Kaya Makin Kaya, yang Miskin Bingung Cari Beras

BANDA ACEH, Infoaceh.net – Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Prof Dr Mujiburrahman MAg menyoroti ketimpangan ekonomi, kemiskinan, keterbelakangan, hingga degradasi moral yang masih menjadi persoalan bangsa.

Ia mengingatkan kekayaan sumber daya alam Indonesia, termasuk Aceh, seharusnya mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, bukan hanya menguntungkan kelompok tertentu.

ADVERTISMENT
Pelantikan Panglima Kodam Iskandar Muda

Kritik tersebut disampaikan Mujiburrahman saat membuka Simposium Sumpah Pemuda bertajuk “Merawat Persatuan NKRI dalam Bingkai Kepemudaan yang Reformis” yang diselenggarakan Senat Mahasiswa (SEMA) UIN Ar-Raniry di Aula LP2M UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Selasa (27/10/2026).

Dalam momentum menjelang peringatan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober, Mujiburrahman mengajak mahasiswa menjadikan semangat persatuan yang diwariskan generasi 1928 sebagai landasan untuk menjawab berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat saat ini.

Menurutnya, peringatan Sumpah Pemuda tidak cukup hanya dilakukan melalui seremoni tahunan. Semangat perjuangan para pemuda harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata, pemikiran kritis, dan upaya memperbaiki kondisi sosial, ekonomi, serta moral bangsa.

Ia mengatakan, tantangan generasi muda saat ini memang berbeda dengan perjuangan pada masa penjajahan.

Namun, kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, dan degradasi moral masih menjadi persoalan yang membutuhkan perhatian serius.

“Hari ini kemiskinan. Hari ini kebodohan. Hari ini keterbelakangan. Hari ini degradasi moral pemuda. Itu menjadi isu yang memungkinkan dikaji, yang memungkinkan dipahami, yang memungkinkan dilakukan refleksi untuk dilakukan perubahan pada masa mendatang,” kata Mujiburrahman.

Ketimpangan di Tengah Kekayaan Alam

Mujiburrahman secara khusus menyoroti ketimpangan ekonomi yang menurutnya masih terlihat di tengah melimpahnya sumber daya alam Indonesia.

Ia mempertanyakan kondisi ketika kekayaan alam yang dimiliki bangsa belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat.

Persoalan tersebut, menurutnya, perlu menjadi bahan refleksi bagi generasi muda, terutama mahasiswa yang kelak akan mengambil peran dalam kepemimpinan dan pembangunan.

“Yang kaya makin kaya di negeri ini. Yang miskin untuk makan nanti siang aja dia nggak tahu harus cari beras di mana,” ujarnya.

Pernyataan itu menggambarkan keprihatinannya terhadap kesenjangan antara kelompok masyarakat yang memiliki kekayaan dan mereka yang masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.

Baca Juga:  Bupati/Wali Kota Diminta Siapkan Lahan, Pembangunan Huntap Ditargetkan Tuntas 2027

Menurut Mujiburrahman, kekayaan sumber daya alam semestinya dikelola secara bertanggung jawab agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat secara luas.

Pengelolaan yang berorientasi pada kesejahteraan rakyat menjadi salah satu tantangan penting bagi kepemimpinan di tingkat nasional maupun daerah.

Aceh, sebagai daerah yang memiliki sumber daya alam dan potensi ekonomi, juga membutuhkan tata kelola yang mampu mendorong pemerataan kesejahteraan.

Karena itu, ia menilai persoalan kemiskinan tidak cukup hanya dibicarakan sebagai masalah ekonomi, tetapi juga perlu dikaitkan dengan integritas, tanggung jawab, dan arah kebijakan para pemimpin.

Selain menyoroti ketimpangan ekonomi, Mujiburrahman mengingatkan mahasiswa agar mempersiapkan diri menjadi generasi yang memiliki integritas dan kepedulian terhadap kepentingan masyarakat.

Menurutnya, kualitas kepemimpinan sangat menentukan bagaimana sumber daya alam dan kekayaan daerah dikelola. Pengetahuan harus berjalan seiring dengan moralitas agar jabatan dan kekuasaan tidak disalahgunakan untuk kepentingan pribadi.

Ia menegaskan, generasi muda tidak boleh menjadikan jabatan sebagai sarana memperkaya diri sendiri. Sebaliknya, mereka harus memiliki komitmen untuk mendorong perubahan, memperjuangkan kepentingan masyarakat, serta menghadirkan tata kelola yang bertanggung jawab.

Mujiburrahman berharap mahasiswa mampu mengambil pelajaran dari sejarah Sumpah Pemuda, ketika perbedaan latar belakang tidak menghalangi generasi muda untuk menyatukan tekad demi kepentingan bangsa.

Ia juga berharap simposium tersebut menjadi ruang diskusi yang produktif bagi mahasiswa untuk mengkaji persoalan lokal dan nasional, bertukar gagasan, serta merumuskan solusi yang dapat diterapkan pada masa mendatang.

“Estafet kepemimpinan bangsa ini berada di pundak-pundak saudara,” ujarnya.

Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa masa depan bangsa dan Aceh membutuhkan generasi muda yang tidak hanya memiliki kemampuan intelektual, tetapi juga keberanian, kejujuran, dan tanggung jawab sosial.

Ketua SEMA UIN Ar-Raniry, Zuhari Alvinda Haris mengatakan simposium tersebut diselenggarakan untuk membahas peran pemuda dalam perjuangan bangsa sekaligus mengkaji berbagai persoalan yang akan dihadapi generasi penerus, baik di tingkat nasional maupun Aceh.

Baca Juga:  Kejari Aceh Besar Setor Rp2,6 Miliar Uang Pengganti Korupsi

Menurut Zuhari, mahasiswa perlu membangun keberanian untuk menyampaikan gagasan dan menawarkan solusi terhadap persoalan masyarakat.

Forum akademik seperti simposium diharapkan menjadi ruang untuk mengembangkan pemikiran kritis sekaligus melahirkan inovasi.

Ia berharap generasi muda tidak bersikap pasif ketika menghadapi persoalan sosial dan kepemimpinan.

Sebaliknya, mahasiswa harus mampu mempersiapkan diri untuk mengambil peran dalam menentukan arah pembangunan di masa depan.

“Kita tidak ingin generasi penerus yang akan melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan Indonesia dan Aceh ini menjadi generasi-generasi yang pengecut dan melempem ke depannya,” kata Zuhari.

Zuhari juga mengkritik perilaku pemimpin yang dinilainya tidak mencerminkan kepentingan masyarakat. Ia mengajak peserta simposium mendiskusikan persoalan kepemudaan, kebangsaan, dan daerah secara terbuka sebagai bagian dari upaya mempersiapkan kepemimpinan yang lebih bertanggung jawab.

Menurutnya, momentum Sumpah Pemuda harus dimanfaatkan untuk memperkuat kesadaran generasi muda mengenai pentingnya persatuan, keberanian menyampaikan kritik, dan komitmen memperjuangkan kepentingan publik.

Hadirkan Tokoh Organisasi dan Kepemudaan Aceh

Simposium Sumpah Pemuda tersebut turut menghadirkan sejumlah tokoh organisasi kemasyarakatan dan kepemudaan di Aceh sebagai narasumber.

Mereka adalah Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Aceh Ahmad Shalihin, Sekretaris Jenderal KNPI Aceh Danil Akbar Taqwadin, Ketua AMMPA Zulfata Agapol, serta Ketua Kohati HMI Cabang Banda Aceh Fitria Sundari.

Kehadiran para narasumber diharapkan memperkaya pembahasan mengenai tantangan kepemudaan, persoalan lingkungan, kepemimpinan, serta masa depan pembangunan Aceh.

Melalui simposium tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami nilai historis Sumpah Pemuda, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Semangat persatuan yang lahir 28 Oktober 1928 dinilai tetap relevan untuk menghadapi tantangan masa kini, termasuk ketimpangan ekonomi, kemiskinan, dan persoalan moral yang membutuhkan keterlibatan semua elemen masyarakat.

Bagi generasi muda, peringatan Sumpah Pemuda menjadi momentum untuk membuktikan bahwa persatuan bukan sekadar slogan, melainkan kekuatan untuk mendorong perubahan dan memperjuangkan masa depan bangsa yang lebih adil dan sejahtera.

image_print
Harian Aceh Indonesia
Netizen Harian Aceh

Beri Komentar

Artikel Terkait