Aceh Besar, Infoaceh.net — Umat Islam diingatkan untuk melakukan introspeksi terhadap kualitas ibadah yang telah dijalankan selama bulan suci Ramadhan.
Hal ini penting agar setiap Muslim dapat mengetahui apakah ibadah puasa dan amalan lainnya benar-benar memberikan dampak dalam meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.
Pesan tersebut disampaikan Kepala UPTD Panti Sosial Anak Jroh Naguna (PSAJN) Dinas Sosial Aceh, Tgk H Muhibuthibri SAg saat menyampaikan khutbah Jumat di Masjid As-Sajidin Komplek Tanjung, Kecamatan Ingin Jaya, Kabupaten Aceh Besar, Jum’at (13/3/2026) yang bertepatan dengan 23 Ramadhan 1447 Hijriah.
Dalam khutbahnya, Tgk. Muhibuthibri menegaskan bahwa kewajiban puasa yang diperintahkan Allah SWT kepada orang-orang beriman bukan sekadar menahan lapar dan dahaga.
Lebih dari itu, puasa memiliki tujuan mulia untuk membentuk pribadi yang bertakwa.
“Allah SWT mewajibkan puasa kepada orang-orang yang beriman bukan untuk menyiksa manusia dengan rasa lapar, dahaga, dan kesukaran. Di balik perintah tersebut terdapat banyak hikmah yang dapat mengantarkan manusia kepada kebaikan dan kesempurnaan hidup,” ujarnya di hadapan jamaah.
Ia menjelaskan, salah satu hikmah terbesar dari ibadah puasa adalah melatih manusia agar mampu meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 183 yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Menurutnya, ayat tersebut menegaskan bahwa puasa merupakan sarana pendidikan spiritual bagi umat Islam untuk memperkuat komitmen dalam menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya.
Karena itu, ia mengajak umat Islam untuk mengevaluasi kembali ibadah puasa yang telah dijalankan selama Ramadhan.
Apakah puasa yang dilakukan benar-benar mampu menjadikan seseorang lebih taat dan lebih semangat dalam beribadah, atau justru tidak memberikan perubahan yang berarti dalam kehidupan.
Ia menjelaskan salah satu tanda ibadah puasa diterima oleh Allah SWT adalah adanya konsistensi dalam beribadah setelah bulan Ramadhan berakhir.
Jika seseorang tetap menjaga semangat beribadah setelah Ramadhan, maka hal tersebut merupakan pertanda baik bahwa amal yang dilakukan selama Ramadhan diterima oleh Allah SWT.
“Cara paling mudah mengetahui apakah ibadah puasa kita diterima atau tidak oleh Allah SWT adalah dengan melihat kondisi kita setelah Ramadhan. Jika kita tetap semangat dan konsisten dalam beribadah, maka itu merupakan tanda bahwa ibadah yang kita lakukan selama Ramadhan diterima oleh Allah,” jelasnya.
Sebaliknya, jika seseorang kembali lalai dalam beribadah setelah Ramadhan berlalu, maka hal tersebut dapat menjadi peringatan bahwa ibadah yang dilakukan selama ini belum memberikan dampak spiritual yang kuat.
Tgk. Muhibuthibri juga mengutip penjelasan ulama besar Imam Ibnu Rajab dalam kitab Lathaiful Ma’arif yang menyebutkan bahwa tanda diterimanya suatu ketaatan adalah ketika seseorang tetap istiqamah dalam beribadah setelahnya.
Sedangkan tanda ditolaknya suatu amal adalah ketika seseorang kembali melakukan kemaksiatan setelah menjalankan ibadah tersebut.
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa ibadah puasa, sebagaimana ibadah shalat, seharusnya mampu membentuk pribadi Muslim yang lebih baik.
Namun dalam kenyataannya, masih banyak orang yang menjalankan ibadah tetapi belum mampu meninggalkan berbagai perbuatan maksiat.
Menurutnya, hal tersebut bisa terjadi karena masih ada kekurangan dalam pelaksanaan ibadah atau adanya perbuatan yang dapat merusak pahala puasa.
Ia mencontohkan beberapa perbuatan yang dapat merusak nilai ibadah puasa, seperti berbohong, berkata kotor, membicarakan keburukan orang lain, serta melakukan adu domba.
Perbuatan tersebut, lanjutnya, telah diingatkan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh An-Nasa’i yang menyebutkan bahwa puasa adalah benteng selama seseorang tidak merusaknya dengan perkataan dan perbuatan yang buruk.
Di akhir khutbahnya, mantan Sekretaris Dinas Syariat Islam Aceh itu mengajak umat Islam untuk menjadikan Ramadhan sebagai momentum memperbaiki diri serta meningkatkan kualitas ibadah.
“Jika selama Ramadhan kita mampu meninggalkan perbuatan-perbuatan yang merusak pahala puasa, maka kita patut bersyukur kepada Allah SWT karena telah diberi pertolongan untuk menjauhinya.
Namun jika tidak, maka tidak mengherankan apabila puasa yang kita jalani tidak memberikan efek positif dalam kehidupan kita,” pungkasnya. (Sayed M. Husen)

















