Umum

Ekonomi Aceh Hadapi Tantangan, PEMA Siapkan Strategi Hilirisasi untuk Masa Depan

Banda Aceh, Infoaceh.net – Kekayaan sumber daya alam (SDA) Aceh belum sepenuhnya berbanding lurus dengan pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.

Sepanjang 2025, ekonomi Aceh hanya tumbuh 2,97 persen, terendah di Sumatera, sementara hampir seperempat penduduk usia 15–24 tahun tidak sedang bersekolah, bekerja, maupun mengikuti pelatihan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Aceh melambat dari 4,66 persen pada 2024 menjadi 2,97 persen pada 2025. Capaian tersebut tertinggal dibandingkan Sumatera Utara sebesar 4,53 persen dan Sumatera Barat 3,37 persen.

Persoalan semakin kompleks ketika melihat kondisi generasi muda. Sebanyak 24,52 persen penduduk Aceh berusia 15–24 tahun masuk kategori Not in Education, Employment, or Training (NEET), melampaui rata-rata nasional 19,44 persen.

Baca Juga:  Empat Personel Polresta Banda Aceh Terima Kenaikan Pangkat Luar Biasa dari Kapolri

Selisih 5,08 poin persentase tersebut menunjukkan tantangan serius dalam meningkatkan akses pendidikan, pelatihan keterampilan, dan kesempatan kerja. Namun, NEET tidak dapat langsung disamakan dengan pengangguran karena memiliki definisi statistik berbeda.

Kondisi itu turut menjadi perhatian dalam materi percepatan ekonomi Aceh yang dipaparkan Faisal Ilyas pada 5 November 2026, dengan pembahasan peluang investasi dan hilirisasi melalui PT Pembangunan Aceh (PEMA).

Sejumlah potensi strategis yang disoroti mencakup Kawasan Ekonomi Khusus Arun, kawasan industri Ladong, energi panas bumi Seulawah Agam, serta pengolahan hasil perikanan Lampulo.

Pengembangan sektor tersebut dinilai berpeluang meningkatkan nilai tambah SDA dan memperluas kesempatan kerja bagi masyarakat lokal.

Baca Juga:  Kajati Aceh Tekankan Pola Hidup Sederhana, Keluarga Harus Menjaga Integritas Jaksa

Namun, rencana investasi memerlukan indikator keberhasilan yang terukur, termasuk realisasi modal, jumlah industri beroperasi, kontribusi ekonomi, dan penyerapan tenaga kerja Aceh.

Perlambatan ekonomi pada 2025 juga perlu dipahami dalam konteks bencana hidrometeorologi akhir tahun yang mengganggu aktivitas produksi, distribusi, dan konsumsi.

Karena itu, hilirisasi harus berjalan beriringan dengan penguatan pendidikan vokasi, peningkatan keterampilan, serta kepastian investasi.

Kekayaan alam Aceh tidak cukup hanya dihitung dari besarnya potensi. Ukuran keberhasilannya adalah nilai tambah yang dihasilkan, pekerjaan yang tercipta, dan kesejahteraan yang dirasakan masyarakat.

image_print
Harian Aceh Indonesia
Netizen Harian Aceh

Beri Komentar

Artikel Terkait