Banda Aceh, Infoaceh.net — Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal menegaskan komitmen pembangunan berbasis kolaborasi dan penguatan sumber daya manusia dalam Seminar Best Practice Banda Aceh Academy (BAA) Talks 2026 di AAC Dayan Dawood, Rabu (22/4/2026).
Kegiatan yang digelar dalam rangka HUT ke-821 Kota Banda Aceh itu menjadi panggung strategis untuk mendorong arah pembangunan menuju kota berbasis talenta (talent-based city).
Sejumlah tokoh nasional turut hadir, di antaranya Ari Ginanjar Agustian, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Wakil Gubernur Kalimantan Timur Seno Aji, serta Ketua Komwil I Apeksi yang juga Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas.
Forum ini juga dihadiri Sekretaris Daerah Aceh Muhammad Nasir, unsur Forkopimda, akademisi, dan ratusan peserta dari berbagai kalangan.
Dalam sambutannya, Illiza menyebut BAA Talks bukan sekadar seminar, tetapi ruang dialog strategis yang mempertemukan pemerintah, akademisi, dan generasi muda untuk berbagi gagasan serta praktik terbaik.
“Ini wadah untuk membuka wawasan, membangun jejaring, dan menghadirkan inspirasi nyata bagi pembangunan kota,” ujarnya.
Ia menegaskan, pada usia 821 tahun, Banda Aceh bukan hanya kota administratif, melainkan kota bersejarah yang tumbuh dari tradisi keilmuan, perdagangan, dan nilai keislaman.
Kota ini juga telah melewati berbagai ujian, termasuk Tsunami Aceh 2004, dan mampu bangkit dengan semangat kolaborasi.
Illiza kembali menekankan visi besar “Banda Aceh Kota Kolaborasi”, di mana pembangunan tidak bisa dilakukan pemerintah semata, melainkan harus melibatkan seluruh elemen, mulai dari akademisi, dunia usaha, hingga komunitas.
Sebagai implementasi, Pemko menghadirkan program Banda Aceh Academy yang difokuskan pada penguatan kompetensi generasi muda, pengembangan kewirausahaan, peningkatan keterampilan digital, serta penguatan soft skills dan kepemimpinan.
“Melalui program ini, kita ingin melahirkan talenta unggul, inovator, dan wirausaha baru yang mampu bersaing,” katanya.
Illiza juga memastikan BAA Talks akan menjadi agenda tahunan sebagai ruang pembelajaran berkelanjutan untuk meningkatkan daya saing kota.
Sementara itu, Sekda Aceh Muhammad Nasir menilai forum ini penting sebagai sarana berbagi praktik terbaik antar daerah. Menurutnya, kepemimpinan daerah saat ini dituntut mampu menghadirkan solusi konkret, mendorong pertumbuhan ekonomi, serta memastikan pembangunan yang inklusif.
“Kolaborasi, jejaring, dan pertukaran pengetahuan menjadi kunci percepatan pembangunan,” ujarnya.


















