Ekonomi

Gas Jumbo Andaman Disalurkan dengan Pipa ke Jawa, Mualem: Aceh Tak Dapat Apa-Apa

BANDA ACEH, Infoaceh.net – Rencana besar pemerintah pusat untuk mengalirkan gas jumbo dari Blok Andaman di lepas pantai Aceh menuju Pulau Jawa dengan pipa memicu respons kritis dari sejumlah tokoh termasuk Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem.

Ketua Umum DPP Partai Aceh ini mengingatkan agar eksploitasi sumber daya alam (SDA) kali ini tidak mengulangi sejarah kelam masa lalu, di mana Aceh hanya menjadi penonton di tanahnya sendiri.

ADVERTISMENT
Selamat Hari Tentara Nasional Indonesia ke-81

​Pernyataan ini mencuat menyusul laporan dari Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) yang memastikan bahwa temuan gas raksasa di Blok Andaman akan mulai disalurkan melalui proyek pipa transmisi gas bumi Dumai-Sei Mangkei (Dusem) pada tahun 2028.

Melalui interkoneksi pipa transmisi tersebut, pasokan gas dari bumi Serambi Mekah diproyeksikan bakal mengalir langsung untuk menyuplai kebutuhan industri di Sumatra hingga Pulau Jawa.

​Mualem Desak Pemanfaatan Gas Fokus pada Kesejahteraan Aceh

​Dalam sebuah pernyataan video yang diunggah melalui akun media sosial Instagram miliknya, Mualem secara lugas menyuarakan kekhawatirannya atas proyek integrasi pipa gas nasional tersebut.

Ia menekankan pentingnya komitmen nyata dari pemerintah pusat agar rakyat Aceh merasakan dampak ekonomi langsung dari keberadaan Blok Andaman.

​”Pemanfaatan gas yang bersumber dari Aceh perlu dikaji secara menyeluruh agar memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat Aceh. Jangan sampai industri-industri besar dibangun langsung ke Jakarta atau Jawa menggunakan gas kita, sementara Aceh tidak mendapatkan apa-apa,” tegas Mualem, seperti dikutip dari akun Instagramnya, Selasa (2/6/2026).

​Mualem mengingatkan memori kolektif masyarakat Aceh saat masa kejayaan Arun di masa lalu. Ia berharap Aceh tidak kembali menjadi “penonton terbaik” ketika kekayaan alamnya dikuras demi menggerakkan roda ekonomi daerah lain, tanpa meninggalkan nilai tambah yang signifikan di daerah asal.

Baca Juga:  OJK Catat 7.454 Laporan Scam di Aceh, Penipuan Belanja Online Paling Banyak

​Oleh karena itu, ia mendorong agar pemerintah memprioritaskan pembangunan industri berbasis gas secara masif di internal wilayah Aceh terlebih dahulu.

​”Pengembangan industri berbasis gas di Aceh penting didorong untuk menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja, dan memperkuat perekonomian Aceh. Kita perlu mendirikan pabrik-pabrik baru, baik di Arun maupun di wilayah strategis lainnya, agar anak-anak dan adik-adik kita di Aceh bisa mendapatkan pekerjaan,” lanjutnya.

​Di sisi lain, Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) memaparkan kesiapan infrastruktur integrasi pipa gas bumi. Kepala BPMA, Nasri Djalal, dalam forum IPA Convex 2026 di ICE BSD menyatakan bahwa penyaluran perdana (onstream) dari Blok Andaman ditargetkan berjalan selaras dengan rampungnya megaproyek pipa transmisi komersial Dumai-Sei Mangkei (Dusem).

​”Pak Laode [Dirjen Migas] bilang 2028 selesai [Dusem]. Itu baru [gas] dia bisa tersambung. Jadi, memang targetnya di Mubadala. Mubadala masuk kan 2028 dan 2029 baru kita tuh over [kelebihan] gas ya,” ungkap Nasri Djalal.

​Nasri menjelaskan, secara teknis Aceh sebenarnya telah memiliki infrastruktur pipa trimline atau control line komersial yang membentang dari Arun hingga ke Medan (dikenal sebagai pipa Arbel atau Arun-Belawan).

Apabila proyek sambungan pipa Dusem yang dibiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui skema multi-years contract ini rampung, maka interkoneksi pipa dari ujung barat Sumatra hingga Pulau Jawa resmi tersambung sepenuhnya.

​Meskipun demikian, BPMA mengakui tantangan teknis mengalirkan gas dari lapangan lepas pantai (offshore) Andaman bukanlah perkara mudah.

Baca Juga:  Tender Rp14,4 Miliar PPI Krueng Mane: Pola Harga Tiga Peserta Nyaris Identik, Diduga Terjadi Persaingan Semu

Proyek ini melibatkan instalasi pipa bawah laut yang kompleks, mitigasi kondisi lingkungan laut dalam yang ekstrem, serta risiko keselamatan tinggi.

​Upaya Pemenuhan Domestik: Harapan Bagi PT Pupuk Iskandar Muda

​Menjawab kekhawatiran terkait alokasi domestik, BPMA mengklaim pasokan dari Blok Andaman juga akan diplot untuk menyelesaikan krisis energi industri lokal di Aceh.

Salah satu fokus utamanya adalah memutus ketergantungan PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) terhadap pasokan gas dari BP.

​Dari total rencana produksi awal kelolaan Mubadala Energy di Blok South Andaman yang mencapai 312 Million Standard Cubic Feet per Day (MMSCFD), sebagian alokasi akan ditahan untuk dikelola di dalam daerah.

​”Mubadala sebesar 300 MMSCFD. Tapi mungkin diolah di kita [BPMA] sekitar 100-an atau 150-an. Dan kita harap ketergantungan PT Pupuk Iskandar Muda dengan BP itu bisa selesai dengan gas tersebut,” pungkas Nasri.

​Sebagai informasi, Blok Andaman saat ini menjadi salah satu penemuan eksplorasi gas terbesar di dunia dalam beberapa tahun terakhir.

Mubadala Energy memegang kendali atas lima wilayah kerja di Laut Andaman dengan total potensi cadangan gas yang diperkirakan menembus angka fantastis, yakni 11 Triliun Kaki Kubik (TCF).

​Sesuai target terbaru, proyek pipa gas Dusem ditargetkan rampung fisik pada akhir 2027, sehingga distribusi gas Andaman secara interkoneksi nasional diproyeksikan beroperasi penuh pada tahun 2028.

Kini, tantangan terbesar berada pada bagaimana pemerintah menyelaraskan ambisi ketahanan energi nasional dengan pemenuhan hak-hak keadilan ekonomi bagi masyarakat Aceh.

image_print
Harian Aceh Indonesia
Netizen Harian Aceh

Artikel Terkait