Komunitas

Catatan Peduli DMDI Aceh di Pante Bidari: Membasuh Luka Banjir, Mengetuk Pintu Keberkahan di Makam Ulama Sufi

Aceh Timur, Infoaceh.net — Ahad menjelang siang, 20 September 2026, bertepatan dengan 8 Rabiul Akhir 1448 Hijriah. Langit Pante Bidari, Lhok Bibong, Aceh Timur, masih diselimuti mendung. Gerimis yang turun sejak pagi meninggalkan kelembaban di sepanjang perjalanan menuju Gampong Grong-Grong.

Di kanan dan kiri jalan, jejak bencana masih nyata terlihat. Lumpur yang belum sepenuhnya mengering, puing-puing bangunan, serta bekas kerusakan rumah warga seakan menjadi saksi bisu dahsyatnya bencana hidrometeorologi yang menerjang kawasan ini akhir November 2025

Di tengah suasana yang menyisakan kepedihan itu, rombongan Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) Aceh kembali menapaki jalan kemanusiaan. Bukan sekadar membawa bantuan pangan, tetapi juga membawa pesan persaudaraan, kepedulian, dan harapan bagi saudara-saudara yang masih berjuang memulihkan kehidupan mereka pascabencana.

Misi kemanusiaan ini dipimpin Drs H Aidi Kamal MM, Ketua Umum DMDI Aceh. Turut mendampingi, Cut Wardani selaku Bendahara DMDI Aceh, Indriani, Muslihah, Syarifah Muhira, Salmiah, Herlinawati, Radian serta NA. Riya Ison yang bertugas mendokumentasikan dan menyusun laporan perjalanan tim.

Perjalanan ini merupakan bagian dari ikhtiar berkelanjutan DMDI Aceh dalam menyalurkan amanah kemanusiaan dari Ops Ihsan Malaysia, sekaligus menyambung tali silaturahmi dengan masyarakat yang terdampak bencana.

Sehari sebelumnya, tim yang sama baru saja menyalurkan bantuan sembako kepada warga Gampong Paloh Lada dan Ulee Pulo, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara. Perjalanan yang melelahkan itu belum usai. Masih ada saudara-saudara yang menanti uluran tangan, masih ada luka yang membutuhkan perhatian, dan masih ada harapan yang perlu terus dijaga.

Bagi DMDI Aceh, perjalanan ke Grong-Grong bukanlah kunjungan seremonial semata. Ini adalah ikhtiar tulus untuk hadir di tengah masyarakat, menyapa mereka yang sedang diuji, mendengar kesulitan yang dihadapi, serta menunjukkan bahwa mereka tidak sendirian dalam melewati masa-masa sulit.

Kerinduan tim untuk melihat langsung titik terparah bencana, yang berjarak sekitar 1 km dari jalan raya Banda Aceh–Medan, harus tertahan oleh kondisi medan yang belum bersahabat.

Kawasan tersebut pernah mengalami kerusakan parah. Jalan desa terputus total dan berubah menjadi kolam besar, sementara puluhan rumah warga ikut tersapu derasnya terjangan banjir.

Baru sekitar 300 meter setelah berbelok dari jalan lintas utama, rombongan mendapati akses masuk gampong masih dalam proses perbaikan darurat. Hujan yang mengguyur sejak pagi membuat badan jalan dipenuhi lumpur licin dan tebal.

Toyota Hiace yang membawa rombongan tidak mungkin dipaksakan melanjutkan perjalanan. Risiko ban kendaraan terperosok ke dalam lumpur terlalu besar.

Di hadapan jalan yang belum sepenuhnya pulih itu, ingatan para relawan seketika kembali pada masa-masa genting pascabencana. Jalanan yang kini masih berlumpur pernah menjadi saksi perjuangan relawan DMDI menembus kawasan terdampak, menyalurkan bantuan logistik darurat di tepi Krueng Arakundo ketika sungai tersebut meluap hebat.

Ada kenangan tentang medan yang berat, ada kepedihan yang belum sepenuhnya terobati, tetapi juga ada semangat kemanusiaan yang tidak pernah padam.

Baca Juga:  Ratusan Santri DQA Ikuti Simulasi Gempa dan Kebakaran Bersama BPBD Aceh Besar

Beruntung, hambatan tersebut telah diantisipasi melalui koordinasi sebelumnya. Tim DMDI Aceh telah berkomunikasi dengan Hamdani Abdullah, Keuchik Gampong Grong-Grong. Setelah mempertimbangkan kondisi lapangan, disepakati bahwa penyerahan bantuan dipusatkan di pekarangan salah satu rumah warga yang berdekatan dengan kawasan terdampak.

Bagi tim, perubahan lokasi bukanlah alasan untuk mengurungkan niat. Sebab, dalam setiap perjalanan kemanusiaan, yang terpenting bukanlah seberapa jauh kendaraan dapat melaju, melainkan seberapa tulus amanah dapat sampai kepada mereka yang membutuhkan.

Ada keistimewaan tersendiri dalam perjalanan DMDI Aceh kali ini. Sebagaimana sejumlah misi kemanusiaan sebelumnya, perjalanan sosial ini kembali berpadu dengan dimensi spiritual.

Tidak jauh dari lokasi penyerahan bantuan, terdapat makam Abu Syekh Abdul Wahab bin Teungku Hasan, seorang ulama sufi yang semasa hidupnya menjadi panutan masyarakat dan membimbing umat melalui jalan suluk di wilayah Pante Bidari.

Meski berkiprah hingga akhir hayatnya di Aceh Timur, Abu Syekh Abdul Wahab merupakan putra asli Trienggadeng, wilayah yang kini berada dalam Kabupaten Pidie Jaya. Beliau juga tercatat sebagai alumni perdana Pesantren Darussalam Labuhan Haji, yang dipimpin oleh Abuya Syekh Muda Waly Al-Khalidi waktu itu.

Sosok beliau dikenang karena ketekunan dalam membimbing umat, menanamkan nilai-nilai keislaman, serta melahirkan generasi penerus ulama. Dari perjalanan dakwahnya, banyak ulama muda yang kemudian tumbuh dan berkiprah, termasuk dari Dayah Darussa’adah Matang Peureulak.

Sebelum bantuan disalurkan, rombongan DMDI Aceh yang dipandu Tgk. Sam, seorang pemuda Pante Bidari, terlebih dahulu menyempatkan diri berziarah ke makam ulama tersebut.

Di bawah keteduhan kompleks makam, doa-doa dipanjatkan dengan penuh kekhusyukan. Drs H Aidi Kamal MM, Radian dan NA. Riya Ison turut larut dalam suasana ziarah yang hening dan penuh perenungan.

Ziarah itu bukan sekadar persinggahan di sebuah pusara. Ia menjadi ruang untuk mengenang perjuangan seorang ulama, meresapi keteladanan, serta menumbuhkan kembali kesadaran bahwa pengabdian kepada umat merupakan warisan kebaikan yang patut diteruskan.

Di tempat yang sarat dengan kenangan perjuangan dakwah itu, nilai kemanusiaan dan spiritualitas seakan bertemu dalam satu harmoni. Menolong sesama adalah bagian dari pengabdian, sementara mengenang para ulama menjadi pengingat agar setiap langkah kebaikan senantiasa dilandasi keikhlasan.

Dari makam seorang ulama yang dahulu mengayomi umat, rombongan kemudian melanjutkan langkah untuk menyapa masyarakat yang masih berjuang bangkit dari bencana.

Di posko darurat yang dipusatkan di pekarangan rumah warga, sebanyak 65 paket sembako disalurkan secara tertib kepada kepala keluarga penyintas banjir di Gampong Grong-Grong, Pante Bidari.

Setiap paket berisi beras kualitas super, minyak goreng, gula pasir, dan telur. Bantuan pangan tersebut merupakan amanah dari sejumlah NGO Malaysia melalui konsorsium kemanusiaan Ops Ihsan Malaysia, yang dipercayakan kepada DMDI Aceh untuk disampaikan kepada masyarakat terdampak.

Di balik setiap paket sembako, ada kepedulian dari saudara-saudara serumpun di negeri jiran. Ada tangan-tangan dermawan yang mungkin tidak hadir secara langsung, tetapi kasih sayangnya menjangkau masyarakat Aceh melalui amanah yang dititipkan.

Baca Juga:  Raih 6 Trofi, MTsN 1 Banda Aceh Juara Umum Samurai Fest II

Bagi keluarga penyintas, bantuan ini mungkin tidak serta-merta menghapus seluruh kesulitan yang mereka hadapi. Namun, di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, bantuan pangan tersebut diharapkan dapat meringankan kebutuhan rumah tangga dan membantu mereka menjalani hari-hari ke depan.

Lebih dari itu, kehadiran rombongan DMDI Aceh menjadi pesan bahwa kepedulian tidak mengenal batas geografis. Selat Malaka boleh memisahkan wilayah, tetapi ikatan persaudaraan Melayu dan Islam senantiasa menemukan jalannya untuk menyatukan hati.

Inilah makna sesungguhnya dari amanah kemanusiaan: bukan semata-mata tentang apa yang diberikan, melainkan juga tentang bagaimana kepedulian itu disampaikan dengan penuh hormat, kasih sayang, dan rasa persaudaraan.

Perjalanan ke Grong-Grong menjadi bagian penting dari rangkaian safari kemanusiaan DMDI Aceh bersama Ops Ihsan Malaysia sepanjang September 2026.

Sebelumnya, tim DMDI Aceh telah menyambangi kawasan pedalaman Beutong Ateuh, Kabupaten Nagan Raya, untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi masyarakat terdampak bencana.

Perjalanan tersebut juga dirangkai dengan ziarah ke makam ulama dan aulia, dimulai dari makam Teungku Banta Kiyah di Beutong Ateuh, dilanjutkan ke makam ulama sufi Sayyid Abdurrahim Rahmani atau lebih dikenal dengan Habib Seunagan di Desa Rambong Cut, Kecamatan Seunagan, Nagan Raya, hingga berziarah ke makam Habib Bugak di Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen.

Rangkaian perjalanan ini menjadi ikhtiar memadukan kepedulian kemanusiaan dengan penghormatan terhadap warisan spiritual para ulama.

Setiap perjalanan menyimpan cerita yang berbeda. Ada kepedihan yang dijumpai, ada doa yang dipanjatkan, ada amanah yang ditunaikan, dan ada harapan yang kembali disemai.

Namun, satu hal tetap sama: kepedulian terhadap sesama tidak boleh berhenti hanya karena waktu telah berlalu sejak bencana terjadi.

Sebagaimana terlihat langsung di lapangan, pemulihan pascabencana bukanlah pekerjaan singkat. Ketika perhatian publik mulai beralih, sebagian penyintas masih harus berjuang memperbaiki rumah, memulihkan mata pencaharian, dan memenuhi kebutuhan keluarga.

Karena itu, DMDI Aceh kembali mengetuk pintu hati para dermawan, baik di tanah air maupun di negeri jiran Malaysia, agar kepedulian terhadap masyarakat terdampak bencana dapat terus berlanjut.

Banjir dan tanah longsor yang berulang kali melanda Aceh menjadi pengingat bahwa solidaritas kemanusiaan harus dibangun secara berkelanjutan, bukan hanya hadir ketika bencana baru saja terjadi.

Sebagai bagian dari organisasi Internasional. DMDI Aceh berkomitmen untuk terus menjadi jembatan kebaikan, menghubungkan para dermawan dengan masyarakat yang membutuhkan melalui gerakan kemanusiaan yang mengedepankan transparansi, ketepatan sasaran, dan kecepatan bertindak.

Semoga setiap paket sembako yang disalurkan menjadi penguat bagi keluarga penyintas. Semoga setiap langkah relawan menjadi amal jariyah, setiap amanah yang ditunaikan menjadi keberkahan, dan setiap doa yang dipanjatkan menjadi penguat bagi mereka yang sedang berjuang.

Dari Aceh untuk dunia Melayu. Dari kepedulian menjadi persaudaraan. Dari amanah menjadi keberkahan.

image_print
Harian Aceh Indonesia
Netizen Harian Aceh

Beri Komentar

Artikel Terkait